Blog EntryKanvasMar 28, '08 10:31 PM
for everyone
Saya suka banget tulisan mas samuel mulia ini,
reseknya, saya lagi jarang banget baca koran.

Dari dulu punya keinginan untuk mengkoleksi tulisannya,
karena, buat saya tulisannya humanis.

Mau dibaca kapanpun, tetap mempunyai jiwa,
kalau bisa pake istilah, "replay value"nya tinggi,

nah, maka dari itu, saya akan copy paste,
moga2x yg punya gak marah, buat saya ini adalah bentuk lain dari kliping :).

_____
Minggu, 10 Februari 2008 | 04:06 WIB

Samuel Mulia

Kira-kira satu minggu lalu saya menghadiri hajatan menyambut Tahun Baru China di sebuah sekolah anak- anak di bawah usia tujuh tahun. Sekolah anak para kaum jetset. Saya hadir pada pagi berhujan itu dengan suasana hati cukup senang.

Acara sudah dimulai saat saya tiba. Teriakan sejumlah anak kecil yang melengking mewarnai acara meriah itu. Mereka berdandan dengan busana Chinanya yang eksotis. Mereka terlihat genit dan menggemaskan. Sebagai manusia yang tak suka anak kecil, saya cukup terhibur melihat keramaian dan kegenitan mereka. Ketidaksukaan itu bisa terhapus sejenak.

Satu di antara si kecil jetset itu ada yang mengenakan atasan terbuka di bagian belakangnya dengan tato kecil di punggung kanan atasnya. Seorang guru nyeletuk di telinga saya ketika saya geleng kepala kok bisa anak belum kelas satu SD berdandan seperti teman saya seorang wanita yang juga bisa dimasukkan ke kelompok wanita genit dan mengundang dan sekarang sedang menyimpan seorang pria muda. ”Itu ibunya yang ngedandanin, Mas.”

Di antara sekian banyak anak kecil jetset itu, saya melihat seorang anak perempuan berdandan seperti laki-laki. Kemudian saya mendapat bocoran, si anak di usia sedini itu sudah tahu dirinya bukanlah seorang gadis kecil, tetapi seorang bocah laki-laki. ”I’m not a girl, I’m a boy,” begitu kalimat yang pernah dilontarkan dari mulut kecil itu. Bahkan ketika seorang gurunya hendak mengikat rambutnya, ia protes dan mengingatkan bahwa dirinya bukan seorang perempuan. ”Don’t touch my hair. I’m a boy, not a girl.”

Kemudian saya melihat dia dengan saksama. Ketika pagi itu semua bocah kecil perempuan menggunakan busana cheongsam merah, dia adalah satu-satunya perempuan mungil yang mengenakan celana jins, kemeja pria warna merah dan sepatu hitam yang mirip sepatu laki-laki ketimbang sepatu perempuan.

”Itu yang dandanin ibunya.”

Saya terentak kaget. Sempat melamun sekian menit meski di depan saya anak-anak kecil mondar-mandir, lari ke sana-kemari. Saya sudah tak lagi bisa mendengarkan suara-suara itu. Saya tak bisa mengerti pada usia begitu muda bocah kecil ini tahu dia bukan seperti yang orang lain lihat.

Saat saya berusia seperti anak itu, saya bahkan tak pernah berpikir saya ini keperempuan-perempuanan. Saya bahkan mungkin tak tahu apa bedanya laki dan perempuan pada usia sedini itu.

Kemudian, terngiang kembali suara ibu guru tadi, ”Itu kan yang dandanin ibunya.” Hujan masih deras di luar sekolah itu. Saya kemudian memutuskan melakukan perjalanan ke masa kecil dahulu. Hari hujan seperti itu lebih melekatkan saya pada masa lalu itu. Pada hari-hari berhujan ibu saya selalu menyediakan segelas minuman khas Bali, sejenis anggur merah yang menghangatkan.

Saya kemudian bertanya, apakah kalau saya sekarang menjadi keperempuan-perempuanan itu gara-gara ulah ibu saya? Apakah anak perempuan kecil yang tahu dirinya seorang pria yang terjerat dalam tubuh seorang perempuan adalah gara-gara orangtuanya, selain memang sudah memiliki kecenderungan ke arah itu?

Saya tak tahu jawabannya. Satu hal yang saya tahu, saat saya melihat anak-anak kecil itu, saya melihat mereka sebagai citra orangtuanya. Saya dan anak-anak kecil itu mewakili citra orangtua kami. Bukan hanya sekadar bentuk hidung, cara berbicara, tetapi juga ketegaran dan kerapuhan saya sebagai pribadi sekarang ini. Keberanian atau kepengecutan saya sekarang ini.

Maka, sekarang kalau saya melihat keadaan diri saya yang mudah marah dan mudah tersinggung, mungkin saya sedang mencerminkan siapa orangtua saya. Kalau mulut saya menghina, menjadi tukang gosip, dan sombong, mungkin itu juga cara orangtua saya mengajar saya. Mungkin mereka seperti apa yang saya lakukan sekarang. Kan katanya, buah itu tak jauh jatuhnya dari pohonnya.

Nasi ayam hainan

Namun, mungkin saya keliru. Marah dan sombong, tukang gosip atau tidak, bisa jadi itu gara-gara saya, bukan orangtua saya. Tetapi, bagaimana saya bisa menjadi sombong, tak kuat menghadapi lingkungan jetset, dan menjadi sok jetset yang gegar budaya, dari cah ndeso menjadi orang metropolitan, itulah yang lebih mencerminkan bagaimana ayah saya mendidik saya.

Kemampuan saya memilah yang benar dari yang baik, kemampuan saya menjadi tegas atau pin-plan, kemampuan saya menolak uang dan menjadi koruptor bahkan menjadi pembunuh, serta penyelingkuh dan pengutang itu semua mencerminkan bagaimana orangtua saya mendidik saya.

Dahulu saya marah mengapa saya bisa jadi seperti sekarang ini. Saya menyalahkan orangtua saya dalam mendidik. Setelah saya sudah lumayan waras, saya bisa sangat mengerti kalau saya sekarang ini menjadi seperti ini. Orangtua saya tak sempurna, menjadi orangtua itu seperti belajar. Dan dalam pembelajaran itu kesalahan pasti tak bisa dihindari.

Secara umum, pasangan suami-istri berasumsi anak yang akan dilahirkan bakal ”sempurna”. Dengan melahirkan yang ”sempurna” saja, kesalahan masih terjadi. Bayangkan, kalau melahirkan yang tak sempurna. Jadi orangtua saya melukis di kanvas dengan sejuta trial and error, dan trial and error itulah saya. Saya adalah hasil goresan tangan orangtua saya yang bisa jadi kalau terlalu keras, justru menggores kanvas hingga berlubang.

Hujan makin deras, di dalam taksi saya masih melamun membayangkan begitu banyak kanvas-kanvas kecil yang siap dilukis kedua orangtuanya melewati trial and error. Saya hanya membayangkan gambar di kanvas itu. Seorang anak pandai, anak penurut, anak pengecut, anak penyelingkuh, yang mulutnya bak silet dan yang senangnya mengganggu suami dan istri orang, yang senangnya menjerat, memanipulasi dan yang membunuh manusia seperti membunuh ayam, untuk dijadikan nasi ayam hainan.

Samuel Mulia Penulis Mode dan Gaya Hidup

 

KILAS PARODI

Hati-hati Belajar ”Melukis”

1. Kalau Anda sebagai orangtua mengatakan anak Anda tak tahu diri, kurang ajar, jahanam, atau apa pun sebutan itu, mohon, mohon, mohon diingat mereka itu bisa seperti itu, yaaa… karena Anda. Mungkin saja lukisan Anda goresannya terlalu banyak, melukai, dan membuat lubang pada kanvasnya yang sering tak Anda sadari. Dan tanpa Anda sadari juga, Anda menyalahkan hasil lukisan Anda.

Mungkin Anda juga tak siap waktu mau melukis. Jadi, sebelum Anda memberi predikat apa pun kepada Anak Anda, coba periksa dulu bagaimana Anda mempersiapkan aktivitas melukis Anda puluhan tahu lalu.

2. Bukan saya mau menyalahkan orangtua, tetapi anak datang belakangan. Jadi, kalau Anda tak siap menggambar, coba berhati-hati dalam mengambil keputusan untuk melukis. Untuk kasus seperti ini, Anda tak bisa les menggambar. Sekali Anda menggores, ia akan menetap selamanya. Tak bisa seperti air hujan yang deras yang menyapu semua kotoran, meski setelah hujan ia menggantinya dengan kotoran baru.

3. Kalau Anda sebagai anak jangan pernah marah-marah dengan mengatakan, ayah Anda brengsek, ibu Anda brengsek, meski mereka memang brengsek. Coba mengerti, bukan hanya rocker saja yang manusia, orangtua itu manusia seperti Anda juga. Dan karena manusia, Anda bisa brengsek juga, bisa juga tidak brengsek. Maka kalau orangtua bisa salah dan bisa benar, mulut Anda diam saja. Cintai mereka, apa pun wujud dan keadaan Anda sekarang.

4. Katanya tak ada kata terlambat untuk memperbaiki lukisan yang rusak. Maka, ada manusia yang memiliki kemampuan membenahi lukisan yang rusak dan menjaga agar tak rusak lebih parah lagi. Maka, yang bisa membenahi lukisan Anda yang rusak itu adalah Yang Kuasa, yang menciptakan langit dan bumi serta segala isinya. Itu kalau Anda mau. Dengan memberi diri untuk diperbaiki, Anda akan lebih bahagia. Kalau Anda bahagia, saya kok percaya kanvas yang berlubang sekalipun bisa disyukuri.

5. Saya merupakan paduan goresan tangan orangtua dan goresan tangan saya sendiri. Kalau orangtua sudah menggores, dan katakan itu hasilnya buruk, maka saya juga harus berhati-hati sehingga goresan itu tak makin buruk dan tidak membiarkan keburukan itu terus terjadi dan menyalahkan orangtua, padahal saya tahu pasti saya bisa mencegah keburukan itu untuk tidak makin menjadi-jadi. Jadi, ternyata saya baru sadar, saya yang sekarang ini tak seratus persen gara-gara orangtua. Itu juga gara-gara saya. (Samuel Mulia)


aranolein wrote on Mar 30
Aku juga pembaca setia rubrik samuel Mulia. Selain kocak, sinis, selalu bisa membuat yang baca segera berkaca. :) TFS. Samuel Mulia ada MP-nya ga ya? hihi...
dartz wrote on Mar 30
Aku juga pembaca setia rubrik samuel Mulia. Selain kocak, sinis, selalu bisa membuat yang baca segera berkaca. :) TFS. Samuel Mulia ada MP-nya ga ya? hihi...
dia harusnya punya ya :D
biar gampang aku klipingnya, hehehe..

Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help